Cari Blog Ini

Memuat...

Selasa, 08 April 2014

MARI BICARAKAN CINTA!


^_^
Tulisan ini terinspirasi dari seorang wanita yang penuh cinta: cinta pada kehidupannya, cinta pada keluarganya, cinta pada orang tuanya, cinta pada saudara-saudaranya, cinta pada pekerjaannya, cinta pada ilmunya, cinta pada orang-orang yang ada di sekelilingnya, dan tentu, cinta kepada Tuhannya.
Ketenangan, kelembutan, kesantunan, dan kebersahajaannya membuat ia tak terkesan membanggakan diri dengan gelar profesor yang disandangnya. Ia selalu bisa melebur dengan siapa pun, diterima oleh kalangan mana pun karena selalu memberi kenyamanan dalam berinteraksi. Namun di balik semua itu, ia nyata seorang pekerja keras yang tangguh. Segudang prestasi pun telah diraihnya, baik dalam bidang akademik, atau pun bidang kebirokrasian.
Atas semua itulah, diri ini pun lantas berusaha untuk mencerna, gerangan apakah yang menjadi “kekuatan rahasia” sang wanita? Sampai pada akhirnya, sebuah simpulan pun tercipta dari dirinya. Cinta. Ya, dalam diri wanita itu penuh cinta, cinta yang kemudian membias dalam bentuk yang beraneka rupa: pengorbanan, kasih sayang, empati, pengertian, tanggung jawab, totalitas, loyalitas, disiplin, ketekunan, kejujuran, ketulusan, kesabaran, ketenangan, kelembutan, kesantunan, kebersahajaan dan berbagai sifat positif lainnya.
Ah, apakah aku berlebihan dalam menilai? Tidakkah aku terlalu subjektif karena pikiranku telah tertutupi rasa kagum pada dirinya? Tidak! Kalau hanya aku yang merasa, tentu benar bahwa aku berlebihan. Tapi dari hampir semua orang yang telah mengenalnya, tidak ada satu pun yang menyangkal. Maka untuk sejenak, marilah kita berbicara tentang cinta, cinta yang sebenarnya, cinta yang bisa membuat hidup menjadi lebih berwarna, cinta yang bisa membangkitkan gelora, dan cinta yang mempu memberi kenyamanan pada siapa pun yang ada di sekitarnya!
Kawan, mungkin kau bertanya, apakah ini pertanda bahwa aku telah menuhankan cinta? Tidak, kawan! Aku hanya ingin kautahu betapa besar peran cinta dalam kehidupan ini. Karena pada hakikatnya, kehidupan ini pun ada karena cinta. Ya, cinta Yang Mahakuasa kepada kita, mahluk-mahluk-Nya.
Dengan cinta, Dia menciptakan langit dan bumi beserta isinya dengan begitu sempurna. Semua didesain agar kita, bangsa manusia, bisa hidup dan mempertahankan kehidupan di alam dunia sampai pada batas-batas yang telah ditentukan-Nya. Dengan cinta, Dia menciptakan matahari sebagai penerang dan sumber energi yang sampai di bumi dengan kadar yang proporsional, tidak kurang, tidak pula lebih. Dengan cinta, Dia menciptakan atmosfer sebagai pereda radiasi matahari, sekaligus sebagai pelindung dari benda-benda langit yang meluncur ke permukaan bumi.
Dengan penuh cinta, Dia menciptakan tetumbuhan sebagai penghasil oksigen, sekaligus sebagai salah satu sumber makanan kita. Dengan penuh cinta, Dia menciptakan binatang sebagai salah satu sumber makanan kita, juga sebagai penyeimbang ekosistem. Dan dengan penuh cinta pula, Dia menciptakan kita, manusia, sebagai aktor utama dalam drama kehidupan ini.
Kita diberi bekal akal untuk berpikir, menjadi pemimpin di antara mahluk lainnya di muka bumi ini, sebagai pembangun peradaban. Kita diberi bekal hati untuk merasa sehingga kita bisa membedakan antara hal yang baik dan yang buruk. Dan selain dari itu semua, dengan cinta-Nya, Dia menularkan bibit-bibit cinta itu di setiap hati manusia. Bibit-bibit itu bisa tumbuh atau pun mati sesuai dengan baik buruknya hati kita.
Jika bibit itu tumbuh dan berkembang, kita akan bisa saling menyayangi, menolong, memberi, dan manghargai. Namun sebaliknya, jika bibit itu sulit tumbuh, apalagi mati, sifat-sifat egoistislah yang akan mewarnai diri kita. Keseharian kita hanya akan dipenuhi rasa iri, benci, serakah, sombong, pelit, licik, dan sederet sifat negatif lainnya. Maka dengan tidak ada maksud untuk menuhankan cinta, wajarlah jika kemudian muncul sebuah pertanyaan, akan jadi seperti apakah kehidupan ini jika tidak ada cinta? Karena sungguh, hanya dengan cinta, keharmonisan dalam hidup bisa tercipta.
Dan pada akhirnya, Dia, Tuhan Yang Maha Mencinta, pun hanya akan mengisi surga-Nya dengan orang-orang yang di dalam hatinya penuh dengan rasa cinta, cinta yang membias dalam bentuk berbagai sikap positif. Namun, kawan, janganlah kau menyangka bahwa pembahasan ini hanya berorientasi pada surga dan neraka, sebuah dimensi kehidupan yang episodenya dimulai setelah kehidupan dunia, yaitu surga dan neraka di alam akhirat.
Sampai di sini, kau pasti paham maksudku, kawan. Ya, konteks surga dan neraka yang kumaksud yaitu surga dan neraka yang sudah bisa dirasa di alam dunia. Surga itu berupa ketenangan dan kenyamanan hati. Sedangkan konteks neraka, yaitu kondisi yang sebaliknya, hati kita mudah sekali merasa bingung, gelisah, iri, curiga, takut, marah dan sifat-sifat negatif lainnya. Karena sama seperti surga dan neraka di alam akhirat, surga dan neraka di alam dunia pun merupakan manifestasi balasan atas perbuatan kita. Surga di dunia yang berupa ketenangan dan kenyamanan itu merupakan wujud balasan otomatis kapada orang-orang yang di dalam hatinya penuh cinta. Sedangkan rasa gelisah, takut, marah, curiga, bingung, dan iri, merupakan balasan kepada kita yang mengalami krisis rasa cinta.
Bersambung….